Pengertian, Sifat, Fungsi dan Tujuan Hukum Acara Perdata
Pengertian, Sifat, Fungsi dan Tujuan Hukum
Acara Perdata
Hukum Perdata Materil hukum yang mengatur hak dan kewajiban pihak-pihak dalam hubungan perdata. Hukum perdata formil sama dengan hukum acara perdata hukum yang mengatur cara mempertahankan atau melaksanakan hak dan kewajiban para pihak dalam hubungan hukum perdata. Hubungan antara hukum perdata materil dengan hukum perdata formil adalah hukum perdata formil mempertahankan tegaknya hukum perdata materil sama dengan jika ada yang melanggar perdata materil maka diselesaikan dengan perdata formil.
Hukum acara perdata adalah peraturan hukum yang mengatur bagaimana cara memelihara dan mempertahankan hukum perdata materiil atau peraturan yang mengatur bagaimana cara mengajukan suatu perkara perdata kemuka pengadilanperdata dan bagaimana cara hakim perdata memberikan putusan.menurut para ahli Wirjono Projodikoro adalah rangkaian peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak terhadap dan di muka pengadilan dan cara bagaimana pengadilan harus bertindak satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan-peraturan hukum perdata.
Tujuan Haper memberikan perlindungan hukum oleh pengadilan untuk mencegah terjadinya tindakan main hakim sendiri (eigenrichting ) , sehingga terjadi tertib hukumjadi tujuan dari Haper adalah untuk mencapai tertib hukum, dimana seseorang mempertahankan haknya melalui badan peradilan ,sehingga tidak akan terjadinya perbuatan sewenang-wenang
Sifatnya sebagaimana diketahui bahwa hukum yang tergoong private recht bersifat mengatur ,dan hukum yang tergolong publiek recht bersifat memaksa,Haper bersifat memaksa mengadug arti bahwa bila terjadi suatu proses acara perdata di pengadilan maka ketentuannya tidak dapat dilanggar melainkan harus diataati oleh para pihak kalau tidak ditaati oleh para pihak (kalau tidak ditaati berakibat merugikan bagi para pihak yang berperkara)sifat Haper yang memaksa ini tiidak dalam konteks hukum public karena haper sendiri termasuk hukum privat,tetapi sifat memaksa ini dalam konteks memaksa kepada para pihak apabila telah masuk pada suatu proses acara perdatanya di pengadilannya
Fungsi kegunaan HAPER karena dalam Hukum Perdata materil (BW) tidak diatur bagaimana cara mempertahankan hak dan kepentingan seseorang,maka untuk merealisasikannya diperlukan Haper,dengan demikian maka kegunaan Haper adalah untuk mempertahankan Hukum Perdata Materil
Sejarah Hukum Acara Perdata
IR
- Wichers (1846)
- Staadblaad (1848)
- UUD 1945 Aturan Peralihan (Pasal 2 UUD 1945) Sesuai Asas Korkondasi
HIR
- UU Darurat No 1 tahun 1951
- Wichers (1846)
- Staadblaad (1848)
- UUD 1945 Aturan Peralihan (Pasal 2 UUD 1945) Sesuai Asas Korkondasi
HIR
- UU Darurat No 1 tahun 1951
Sumber Hukum Acara Perdata
- Hukum positif
- Yurisprudensi
- Surat edaran MA
- Instruksi MA,dll
- Yurisprudensi
- Surat edaran MA
- Instruksi MA,dll
Batas-batas
Perbuatan Melawan Hukum Dalam Hukum Perdata dan Hukum Pidana Kaitannya dengan Hukum
Pidana Korupsi
Oleh : Hisar Tambunan, SH.,MH
Abstraksi
Sejarah bangsa ini dalam
usaha untuk memberantas perbuatan korupsi boleh dibilang telah cukup panjang.
Secara formal setidak-tidaknya telah lahir empat generasi undang-undang yakni
undang-undang No. 24 Prp tahun 1960, Undang-undang No.3 tahun 1971,
undang-undang No.31 tahun 1999, dan terakhir undang-undang No.20 tahun 2001.
Semua produk undang-undang itu merupakan kebijakan formulatif dalam rangka
pemberantasan tindak pidana korupsi.
Kesadaran terhadap
pemberantasan korupsi juga dijiwai oleh nilai-nilai yang berubah dari masa ke
masa.Kalau pada awal-awal aksi pemberantasan korupsi nilai yang dianut adalah
bahwa perbuatan korupsi merupakan perbuatan yang sangat merugikan
keuangan/perekonomian Negara dan menghambat pembangunan nasional.Dalam
perkembangannya perbuatan korupsi dipandang sebagai penghambat bagi terwujudnya
masyarakat yang adil dan makmur, menghambat pertumbuhan dan kelangsungan
pembangunan nasional yang menuntut efisiensi tinggi, dan pada akhirnya
perbuatan korupsi dipandang sebagai perbuatan yang melanggar hak-hak sosial dan
ekonomi secara luas sehingga pemberantasannya harus dilakukan secara luar
biasa.
Menyadari hal itu maka
lembaga Negara tertinggi, MPR, sampai-sampai mengeluarkan produk berupa Tap
No.XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme.
Keseluruhan usaha diatas
harus dilihat sebagai sesuatu yang positif dalam arti bahwa telah tumbuh
kesadaran bersama sedemikian rupa guna melakukan reformasi terhadap substansi
perundang-undangan agar legalitas pemberantasan korupsi makin lengkap dan
kokoh.Lengkap karena perbuatan-perbuatan yang dikriminalisasikan sebagai
legalitas bagi pengadilan untuk mengadili terdakwa korupsi makin lengkap.Di samping
itu dukungan dari sisi hukum acara, penegak hukum dan masyarakat luas baik
nasional maupun internasional serta seluruh sistem yang terkait tidak kalah
penting dalam turut memberantas tindak pidana korupsi.
Dari sekian aspek penting
yang dapat dibaca dalam pengantar, saya akan melihat bagian tertentu dalam
kaitannya dengan kebijakan formulasi dalam penegakan hukum khususnya proses
kriminalisasi yakni perihal aspek perbuatan melawan hukum (onrechtmatige
daad)dalam hukum perdata atau perbuatan melawan hukum (wederrechtelijk)
dalam hukum pidana.
Wederrechtelijk
Bagian itu menjadi penting
utamanya dalam konteks kriminalisasi karena sejak keluarnya Undang-undang No.3
Tahun 1971, kata “melawan hukum” yang tujuannya untuk memperkaya diri sendiri
atau orang lain atau suatu badan menjadi semacam ‘bestanddeel delict’
atau delik inti dari suatu perbuatan korupsi {Pasal 1 ayat (1) huruf a}.
Undang-undang No. 31 Tahun 1999 mengulanginya lagi dalam Pasal 2 ayat (1)-nya.
Saya akan mulai dari
‘wederrechtelijk’ dalam hukum pidana. Telah diketahui secara luas bahwa suatu
perbuatan pidana (strafbaarfeit) intinya adalah feityang ‘wederrechtelijk’
atau perbuatan yang melawan hukum.Ukuran normatif untuk menentukan dapat
dipidananya perbuatan dalam hukum pidana sudahlah jelas karena Hukum Pidana
memiliki asas umum yang harus dijunjung tinggi yakni asas legalitas (legality
principle), Nullum
delictum nulla poena sinepraevia legi poenali –tidak
ada delik, tidak ada pidana tanpa ketentuan pidana yang mendahuluinya-. Sering
juga dipakai istilah ‘Nullum crimen sine lege stricta’ -tidak ada delik
tanpa ketentuan yang tegas- yang terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Jadi
jelas bahwa untuk adanya pidana (straf) harus didahului oleh
kriminalisasi perbuatan dalam peraturan perundang-undangan.
Hukum Pidana Korupsi adalah
hukum pidana khusus. Sebagai hukum pidana khusus maka asas-asasumum (algemene
beginselen) yang terdapat dalam Buku I KUHP berdasar Pasal 103 KUHP dapat
berlaku untuk tindak pidana khusus diluar KUHP kecuali ia menentukan lain.
Dengan demikian langkah pemberantasan korupsi harus dimulai dan selalu
didasarkan pada formulasi perundang-undangan.Hal itu –seperti saya katakana di
atas- telah dimulai secara formal pada tahun 1964-.
Kembali kepada persoalan
‘melawan hukum ‘. Diketahui pula bahwa dalam hukum pidana –seperti juga dalam
hukum perdata yang akan saya uraikan kemudian- telah terjadi pergeseran
pengertian mengenai ajaran sifat melawan hukum. Doktrin yang kemudian
terkristal dalam Arrest
Hoograad pertama-tama
mengartikan melawan hukum sebagai ‘melawan undang-undang’ (wet). Ini
harus dimengerti karena apabila kita menengok pada sejarah lahirnya asas
legalitas, antara lain karena pertimbangan adanya asas politik agar rakyat
mendapat jaminan pemerintah tidak sewenang-wenang, sehingga dalam Declaration Des Droits De L’Homme
Et DuCitoyen tahun 1789
dinyatakan :‘Tidak ada orang yang dapat dipidana selain atas kekuatan
undang-undang yang sudah ada sebelumnya’. Mr.Simons adalah salah seorang yang
menganut ajaran formil ini.
Ajaran itu mulai bergeser kea
rah pendirian melawan hukum yang materiil yang di negeri Belanda pertama-tama
ditandai dengan keluarnya Arrest Hoograad Nederland 31 januari Tahun 1919 yaitu LindenbaumCohen Arrest. Dalam
Arrest itu H.R Belanda menyatakan bahwa : “Perbuatan melanggar hukum (onrechtmatige
daad) adalah bukan saja perbuatan yang
bertentangan
dengan wet, tetapi juga
perbuatan yang dipandang dari pergaulan masyarakat tidak patut”. Mr.Vost adalah
salah satu penganut ajaran ini.
Namun demikian, dalam menentukan
dapat tidaknya suatu perbuatan diancam dengan pidana (tentu di lapangan hukum
pidana) seperti sudah saya katakan di atas harus tunduk pada asas legalitas
(formil) yang tersebut dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP.Dengan demikian ajaran sifat
melawan hukum materiil dalam fungsi yang positif, tidak dianut dalam hukum
pidana.Sebaliknya hukum pidana (termasuk Hukum Pidana Indonesia) berpendirian
untuk mengikuti ajaran sifat melawan hukum materiil dalam fungsi yang negatif.
Di negeri Belanda sendiri fungsi negatif ini telah dianut tersebut dalam Arrest Dokter Hewan dari kota Huizen
(Putusan H.R. 20 Februari 1933)
Onrechtmatige
daad
Telah diketahui dalam
lapangan hukum perdata perbuatan melawan hukum biasa di sebut dengan
terminology ‘onrechtmatige daad’.Biasanya mendengar kata perbuatan melawan
hukum, orang langsung tertuju pada Pasal 1365 BW sebagai aturan yang bersifat
genus yang menjadi referensi bagi peraturan-peraturan khusus yang juga mengatur
mengenai perbuatan melawan hukum.
Pasal 1365 BW juga biasa
disebut sebagai ketentuan all
catches atau pasal keranjang
sampah. Namun demikian ketentuan tersebut justru merupakan pemicu dan pemacu
untuk terjadinya penemuan hukum (rechtsvinding).Melalui pasal ini, hukum
yang tidak tertulis menjadi diperhatikan oleh undang-undang.Ini terbukti baik
dalam doktrin maupun yurisprudensi di mana telah terjadi pergeseran arti (dari
sempit ke arti yang luas). Setidak-tidaknya ada dua putusan H.R. Belanda yang
mengartikan perbuatan melawan hukumdalam arti sempit (formil) yakni Arrest 6 Januari 1905 yakni Arrest Mesin Jahit Singer danArrest 10 juni 1910 mengenai De Zutphense Juffrouw Arrest.
Pergeseran ke arti yang luas,
seperti saya telah jelaskan di atas terlihat dalamArrest Hoograad Nederland 31 januari Tahun 1919 yaitu Lindenbaum Cohen Arrest.
Melawan hukum dipandang sebagai berbuat atau tidak berbuat yang bertentangan
dengan atau melanggar hak subyektif orang lain, kewajiban hukum pelaku, kaedah
kesusilaan, dan kepatutan dalam masyarakat.
Saya sendiri menganut ajaran
yang luas itu. Saya mengartikan perbuatan melawan hukum sebagai perbuatan yang
tidak hanya bertentangan dengan undang-undang saja tetapi juga berbuat atau
tidak berbuat yang melanggar hak orang lain atau bertentangan dengan kewajiban
hukum, bertentangan dengan kesusilaan maupun sifat berhati-hati sebagaimana
patutnya dalam lalu lintas masyarakat.
WederrechtelijkdanOnrechtmatig dalam Hukum Pidana Korupsi
Kiranya
batas-batas wederrechtelijk dan onrechtmatige daad sudah jelas seperti apa yang telah
saya uraikan di depan. Seperti telah saya katakan bahwa ajaranwederrechtelijk dalam lapangan hukum pidana
memiliki dua fungsi yakni fungsi positif dan fungsi negatif.
Hukum pidana korupsi
nampaknya menganut kedua fungsi ajaran sifat melawan hukum tersebut di atas.
Penjelasan Umum Undang-undang No. 3 tahun 1971 menyiratkan digunakannya ajaran
sifat melawan hukum materiil dalam fungsi yang positif dengan menyebut ‘sarana
melawan hukum yang mengandung pengertian formil dan materiil’. Namun demikian
dalam praktik peradilan ajaran sifat melawan hukum materiil dalam arti
negatiflah yang telah digunakan. Yurisprudensi mengenai tindak pidana korupsi
menyatakan bahwa apabila terdapat keadaan antara lain Negara tidak dirugikan,
terdakwa tidak mendapat untung dan kepentingan umum terlayani, maka hapuslah
sifat melawan hukumnya perbuatan.
Sedangkan Penjelasan Umum
Undang-undang No. 31 tahun 1999 tegas-tegas menganut ajaran sifat melawan hukum
materiil dalam fungsi yang positif.Pengertian melawan hukum dalam tindak pidana
korupsi dapat pula mencakup perbuatan-perbuatan tercela yang menurut perasaan
keadilan masyarakat harus dituntut dan dipidana. Hal yang sama juga dijumpai
dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (1) yang jelas-jelas menyatakan bahwa “Yang
dimaksud dengan ‘secara melawan hukum’ dalam Pasal ini (Pasal 2-pen-) mencakup
perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil, yakni
meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan,
namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan
rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka
perbuatan tersebut dapat dipidana.
Seperti telah saya nyatakan
di depan bahwa perkataan melawan hukum adalah sesuatu yang masih umum (genus)
sehingga dengan demikian harus diberi arti yang nyata. Benturan dengan asas
legalitas (formil) dalam hukum pidana (positif-KUHP-) dan penghormatan terhadap
HAM maka menurut Prof.Indriyanto, penggunaaan ajaran ini (sifat melawan hukum
dalam fungsi yang positif) harus digunakan dengan sangat selektif, hati-hati
dan ketat.
Menarik untuk dikaji karena
RUU-KUHP telah tidak lagi sepenuhnya menganut ajaran legalitas formil melainkan
asas legalitas yang materiil, artinya dalam menentukan suatu tindak pidana,
tidak lagi semata-mata menyandarkan pada peraturan perundang-undangan melainkan
juga pada hukum yang hidup dimasyarakat (living law). Secara ratio legisbisa diterima
mengingat kata Prof.Moeljatno bahwa hampir semua hukum Indonesia asli adalah
hukum yang tidak tertulis.
Variabel lain yang barangkali
perlu dikaji pula adalah kenyataan bahwa secara formal, sejak tahun 1999, kita
telah memasuki era otonomi daerah. Daerah memiliki kewenangan yang relatif
besar dan ini bisa juga termasuk dalam menggali nilai-nilai budaya termasuk
hukum setempat yang selama ini tidak terpelihara.
Kedua variable di atas secara
paralel akan sangat mendukung bagi pertumbuhan ajaran sifat melawan hukum
materiil dalam fungsi yang positif disatu sisi- juga sekaligus fungsi yang
negatif-
(walaupun harus diingat bahwa harus digunakan secara sangat hati-hati dan
ketat). Pada sisi yang lain, hal itu juga bermanfaat dalam mendorong hakim
untuk melakukan penggalian dan penemuan hukum (rechtsvinding), yang
akhirnya tentu sangat bermanfaat bagi kepentingan legal reform, utamanya dalam
kebijakan formulasi dan aplikasi dalam penegakan hukum (pidana korupsi).
Berbeda dengan ajaran sifat
melawan hukum materiil (utamanya dalam fungsi yang positif) dalam lapangan
hukum pidana, ajaran yang sama dalam hukum perdata lebih leluasa berkembang
ditandai dengan banyaknya yurisprudensi MA yang telah menganut ajaran sifat
melawan hukum dalam arti yang luas.
Kaitannya dengan problem yang
sedang kita bicarakan adalah, adakah peran ajaran melawan hukum dalam hukum
perdata kaitannya dengan hukum pidana korupsi?
Perlu diketahui bahwa
sesungguhnya secara normatif, secara umum peran Hukum Perdata dalam turut
menegakkan hukum pidana korupsi telah ada antara lain telah tercermin dalam
proses kriminalisasi atau pada kebijakan penegakan hukum pada fase formulasi
peraturan perundang-undangan. Pasal 1 ayat 1(a) Undang-undang No. 3 tahun 1971,
Pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 31 tahun 1999 telah mencantumkan ‘melawan
hukum’. Keduanya diberi arti yang luas, arti mana secara historis merupakan
produk dari pergulatan asas dalam lapangan Hukum Perdata.
Kontribusi Hukum Perdata
dalam Hukum Pidana Korupsi lebih banyak terletak pada hukum acaranya. Seperti
diketahui bahwa Pasal 32, Pasal 33 dan Pasal 34 Undang-undang No. 31 tahun 1999
membuka ruang bagi Negara untuk menggugat secara perdata apabila terjadi
hal-hal:
a. Penyidik berpendapat bahwa
satu atau lebih unsur tindak pidana tidak terdapat cukup bukti sedang secara
nyata telah terjadi kerugian keuangan Negara;
b. Tersangka meninggal dunia
saat penyidikan padahal nyata-nyata telah ada kerugian keuangan negara,
gugatannya ditujukan kepada ahli warisnya, dan
c. Terdakwa meninggal dunia
saat persidangan padahal nyata-nyata terjadi kerugian negara, gugatan ditujukan
kepada ahli warisnya.
Gugatan perdata kepada ahli
waris dalam hukum perdata memang memungkinkan berdasar “Titel Umum” di mana
segala hak berikut segala kewajiban dari pewaris, sejak ia meninggal dunia
jatuh/beralih sepenuhnya menjadi hak dan kewajiban ahli warisnya.
Lebih jauh, bahkan
Undang-undang No.20 Tahun 2001, dalam Pasal 38 dinyatakan bahwa : “Apabila
setelah putusan pengadilan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, diketahui
masih terdapat harta benda milik terpidana yang diduga atau patut diduga juga
berasal dari tindak pidana korupsi yang belum dikenakan perampasan untuk negara
maka negara dapat melakukan gugatan perdata terhadap terpidana dan atau ahli
warisnya”.
Selain
dari hal di atas oleh karena Undang-undang anti korupsi menempatkan badan hukum
(rechtspersonen) sebagai subyek hukum maka pola pertanggungjawaban
pengganti (vicarious liability) yang tersebut dalam Pasal 1367 BW juga
berlaku bagi gugatan perdata dalam tindak pidana korupsi.
Sejarah,
Definisi dan Manfaat Perbandingan Hukum Pidana.
Sejarah, Definisi dan Manfaat Perbandingan Hukum Pidana.
Sejarah dan latar belakang terbentuknya Perbandingan Hukum dalam Ilmu Hukum
yaitu sejak studi perbandingan hukum telah dimulai ketika Aristoteles (384-322
SM) melakukan penelitian terhadap 153 konstitusi Yunani dan beberapa kota
lainnya yang dimuat dalam bukunya yang berjudul Politics. Solon juga melakukan
melakukan penelitian atau studi perbandingan hukum ketika menyusun hukum Athena
(650-558 SM). Studi perbandingan hukum berlanjut pada abad pertengahan dimana
dilakukan studi perbandingan antara hukum Kanonik dan hukum Romawi, dan pada
abad 16 di Inggris telah memperdebatkan kegunaan hukum Kanonik dan hukum
Kebiasaan. Studi perbandingan tentang hukum kebiasaan di Eropa pada waktu itu
telah dijadikan dasar penyusunan asas-asas hukum perdata (ius civile)di
Jerman. Montesquieu telah melakukan studi perbandingan untuk menyusun suatu
asas-asas umum dari suatu pemerintahan yang baik. Perkembangan perbandingan
hukum sebagai ilmu, relatif baru dimana istilah comparatif law atau droit
compare baru dikenal dan diakui penggunaannya yang dimulai di daerah
Eropa. Perkembangan pesat perbandingan hukum menjadi cabang khusus dalam studi
ilmu hukum adalah bagian kedua pertengahan abad ke-18 yaitu yang dikenal
sebagai era kodifikasi. Perkembangan pengakuan perbandingan hukum sebagai cabang
ilmu hukum baru menghadapi kendala-kendala, antara lain disebabkan telah
berabad lamanya, ilmu hukum yang sesuai dengan perintah Tuhan dan bersumber
pada hukum alam (natural law) serta mencapai cita kelayakan, dan sangat
kurang memperhatikan hukum dalam kenyataan atau penerapan hukum. Studi tentang
hukum positif ketika itu diabaikan di perguruan tinggi, yang hanya mengajarkan
hukum Romawi dan hukum Kanonik. Pada bagian terakhir dari abad ke-19
perbandingan hukum mulai disukai sebagai cara untuk membandingkan hukum-hukum
di Eropa daratan, sejalan dengan memudarnya perhatian terhadap ius
commune yang mengajarkan eksistensi hukum yang bersifat universal,
serta lahirnya nasionalisme dalam bidang hukum yang ditandai oleh berperannya
kodifikasi. Kodifikasi hukum pertama setelah munculnya nation state, terjadi di
Perancis, dikenal dengan Code de Napoleon. Nasionalisasi hukum tersebut
dipengaruhi oleh Von Savigny, seorang tokoh aliran sejarah hukum. Sekalipun
pengakuan terhadap perbandingan hukum sebagai disiplin hukum terjadi pada abad
ke 19, akan tetapi perkembangan yang sangat pesat terjadi pada abd ke-20.
Pertanyaan mendasar yang dikembangkan pada abad ke-19 adalah sebagai berikut:
a. Tujuan dan sifat perbandingan hukum ;
b. Kedudukan perbandingan hukum dalam kerangka ilmu hukum;
c. Karakteristik dan metode perbandingan hukum;
d. Kemungkinan penerapannya dan kegunaan yang bersifat umum ; dan
Kontroversi tentang perbandingan
hukum yang berdiri sendiri dan perbandingan hukum sebagai metode. Maka didalam
konteks kerangka ilmu hukum, kedudukan perbandingan hukum (perbandingan hukum
pidana) sebagai disiplin hukum merupakan salah satu ilmu kenyataan hukum,
disamping sejarah hukum,/sosiologi/hukum,/antropologi/hukum,/dan/psikologi/hukum.
Kita membutuhkan
ilmu perbandingan hukum dikarenakan (menurut Van Apeldorn) beberapa tujuannya/berikut/:
a. Tujuan yang bersifat teoritis yaitu untuk menjelaskan hukum sebagai gejala
dunia (universal) dan oleh karena itu ilmu
pengetahuan hukum harus dapat memahami gejala dunia tersebut. Dan untuk itu
harus dipahami hukum di masa lampau dan hukum di masa sekarang
b. Tujuan yang bersifat praktis yaitu merupakan alat pertolongan untuk tertib
masyarakat dan pembaharuan hukum nasional serta memberikan pengetahuan berbagai
peraturan dan pikiran hukum kepada pembentuk undang-undang, juga hakim.
c. Tujuan yang bersifat politis yaitu mempelajari perbandingan hukum untuk
mempertahankan “status quo” dimana tidak ada maksud sama sekali
mengadakan perubahan mendasar di Negara yang berkembang.
d. Tujuan yang bersifat pedagogis yaitu untuk memperluas wawasan mahasiswa
sehingga mereka dapat berpikir inter dan multi disiplin, serta mempertajam
penalaran dalam mempelajari hukum asing.
Menurut
Soedarto bahwa kegunaan studi perbandingan hukum yaitu:
a. Unifikasi hukum yaitu, adanya kesatuan hukum sebagiamana telah diwujudkan
dalam konvensi hak cipta 1886 dan General Postal Convention, 1894 dan konvensi
internasional lainnya.
b. Harmonisasi hukum yaitu, hukum tetap dapat berdiri sendiri namun berjalan
beriringan.
c. Mencegah chauvinisme hukum nasional yaitu kita dapat memperoleh gambaran
yang jelas tentang hukum nasional yang berlaku sehingga kita mawas diri akan
kelemahan-kelemahan yang terdapat pada hukum pidana positif sehingga kita tidak
melebih-lebihkan hukum nasional dan mengesampingkan hukum asing.
d. Memahami hukum asing
Misalnya :
apabila Negara Kesatuan Republik Indonesia hendak mengadakan perjanjian
internasional dengan Negara lain, lalu timbul kemudian masalah, maka untuk bisa
menyelesaikan masalah tersebut pihak NKRI mau tidak mau harus paham akan system
hukum Negara yang menjadi lawannya (dalam sengketa).
Perdebatan
antara kedudukan hukum sebagai metode dan ilmu masih berlangsung sampai sekarang.
Beberapa pendapat pakar yang menyebutkan hukum sebagai metode ialah sebagai
berikut :
a. Winerton, mengemukakan bahwa perbandingan hukum adalah suatu metode yang
membandingkan system-sistem hukum dan perbandingan tersebut menghasilkan data
system hukum yang dibandingkan;
b. Rudolf B. Schlesinger, mengatakan bahwa perbandingan hukum merupakan metode
penyelidikan dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih dalam
tentang hukum tertentu;
c. Gutterdige, menyatakan bahwa perbandingan hukum tidak lain merupakan suatu
metode perbandingan yang dapat digunakan dalam semua cabang ilmu hukum;
Beberapa
pendapat pakar yang menyebutkan perbandingan hukum sebagai ilmu ialah sebagai
berikut :
a. Soedarto, berpendapat bahwa perbandingan hukum merupkan cabang dari ilmu
hukum dan karena itu lebih tepat menggunakan istilah perbandingan hukum dari
istilah hukum perbandingan.
b. Lemaire, mengemukakan perbandingan hukum sebagai cabang ilmu pengetahuan
mempunyai lingkup kaidah-kaidah hukum, persamaan dan perbedaannya,
sebab-sebabnya dan dasar-dasar kemasyarakatannya;
c. Ole Lando, mengemukakan antara lain bahwa perbandingan hukum mencakup
analysis dan comparison of laws;
d. Hessel Yutema, mengemukakan definisi perbandingan hukum hanya suatu nama
lain untuk ilmu hukum dan merupakan bagian yang menyatu dari ilmu sosial atau
seperti cabang ilmu lainnya yang bersifat universal;
Kesimpulannya,
kedudukan perbandingan hukum tersebut muncul sebagai metode dan ilmu
berdasarkan masanya sehingga ada juga kebenaran dari para pendapat tersebut.
Namun perbandingan hukum sebagai ilmu lebih tepat dikarenakan lebih relevan
dengan perkembangan masyarakat masa kini karena perbandingan hukum tidak hanya
semata-mata sebagai alat untuk mengetahui persamaan dan perbedaan dua system
hokum yang berbeda satu sama lain, melainkan sudah merupakan studi tersendiri
yang mempergunakan metode dan pendekatan khas yaitu metode perbandingan,
sejarah dan sosiologis serta objek pembahasan tersendiri yaitu system/hukum/asing/tertentu.
Peranan Dan Manfaat Perbandingan Hukum Pidana Bagi Pembaharuan Hukum Pidana
Nasional
A. Manfaat Ilmiah dan Praktis
Apabila kita melakukan perbandingan hukum pidana maka hal itu adalah karena
didorong adanya kebutuhan-kebutuhan akan manfaatnya bagi kita, di mana
manfaat-manfaat tersebut secara garis besarnya dapat dibedakan dalam:
1. Manfaat
perbandingan hukum pidana secara ilmiah.
Dengan membanding-bandingkan berbagai sistem hukum pidana dari berbagai
negara maka pengetahuan kita tentang hukum dan pranata-pranatanya akan semakin
dalam dan luas. Hal ini karena kita dapat melihat bahwa terhadap suatu problem
atau kebutuhan yang sama dapat dicapai suatu penyelesaian atau problem solving
yang berbeda-beda. Di samping itu dapat juga dilihat bahwa walaupun masyarakat
dan kebudayaannya berbeda-beda tetapi dapat menyelesaikan persoalan yang sama
dengan cara yang sama pula, sedang suatu masyarakat yang mempunyai budaya yang
sama mungkin dapat menyelesaikan suatu persoalan dengan cara yang berbeda. Hal
ini tentulah akan memperluas cakrawala ataupun wawasan berpikir kita sekaligus
menghindarkan diri dari kepicikan dan mempunyai anggapan yang baik berupa
anggapan bahwa hukum kitalah yang terbaik (chauvinistis) dan menilai orang baik
tidak baik atau menganggapbahwa sistem kita tidak baik dibandingkan dengan
sistem hukum negara lain (rasa rendah diri).
Selanjutnya dengan perbandingan hukum dapat ditingkatkan kualitas
pendidikan hukum. Para sarjana hukum akan mempunyai legalr reasoning tentang
suatu lembaga hukum yang ada, di samping itu juga degan perbandingan hukum ini
akan menimbulkan banyak inspirasi atas berbagai hal yang sekaligus merupakan
usaha dan sumbangan yang berharga bagi perkembangan ilmu hukum pidana yang
nantinya dapat berguna dalam praktek.
2. Manfaat Perbandingan Hukum Pidana bagi Kegiatan Praktis
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa hukum asing banyak memberi bantuan
dalam memecahkan persoalan-persoalan ang akan digunakan untuk pengembangan
hukum sendiri. Oleh karena itu, perbandingan hukum sangat berguna bagi Pembuat
Undang-Undang (Legislator) dalam badan legislatif. Bagi para Hakim, studi
Perbandingan Hukum akan banyak manfaatnya. Oleh karena dengan membandingkan
aturan perundang-undangan sendiri dengan aturan perundang-undangan asing mengenai
hal yang sama, para Hakim bisa mendapat pandangan yang lebih baik mengnai arti
ari aturan itu sendiri. Perbandinganhukum dapat memberi pengetahuan yang lebih
baik untuk mentafsirkan suatu aturan perundang-undangan yang selanjutnya dapat
melahirkan yurisprudensi-yuriusprudensi baru yang bermutu dan up to date.
Dengan makin eratnya hubungan antara negara yang satu dengan negara yang
lain (adanya interdependensi antar negara) maka akan timbul kebutuhan yang
sangat akan adanya persesuaian (harmonisasi hukum pidana yang satu dengan yang
lain). Pada mulanya ini akan berpengaruh sekali dalam bidang perdagangan dan
politik, tetapi terjadi suatu tindak pidana yang menimbulkan adanya titik-taut
dalam hukum pidana maa terasalah perlunya harmoniasi hukum pidana antar negara
itu. Sebagai contohnya dapat disebutkan adalah masalah-masalah kejahatan yang
dapat diekstradisi.
B. Pembentukan
Hukum Pidana Nasional yang Bermutu dan Up to Date
Indonesia sampai sekarang mewarisi KUHP yang berasal dari masa penjajahan Belanda,
walaupun memang di sana-sini banyak yang sudah ditambah, diubah, dan diganti.
Namun bagaimanapun juga, KUHP tersebut dahulu disusun sesuai dengan ideologi
penjajah dan sudah pasti sebagian ketentuannya telah ketinggalan zaman (out to
date). Oleh karena itulah kita sambut baik usaha pemerintah, dalam hal ini
Kementerian Kehakiman, yang sedang berusaha mempersiapkan Rancangan KUH Pidana
Nasional yang baru, yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia
saat ini dan saat yang akan datang.
Dalam usaha untuk membentuk KUHP Nasional yang baru dan bermutu itulah kita
suka atau tidak suka membutuhkan pengetahuan tentang berbagai sistem hukum
pidana asing maupun juga dalam konteks ini Hukum Pidana Adat. Hal ini
dikarenakan kita dapat mengambil bahan-bahan yang berguna bagi kita di
Indonesia. Apalagi hukum pidana suatu negara modern harus mencerminkan “several
world view”. Termasuk juga, sebagaimana disebutkan di atas, mempelajari hukum
pidana adat Indonesia oleh karena KUHP yang baru nanti sudah tentu harus
mencerminkan keperibadian Indonesia.
Dengan demikian para perencana undang-undang dan pembuat undang-undang
pidana baik DPR maupun pihak pemerintahan dapat menarik manfaat dari studi
perbandingan hukum pidana.
Ada beberapa
ketentuan dalam KUHP Indonesia sekarang yang harus didekriminalisasi dan ada
pula hal-hal yang terjadi dalam masyarakat yang perlu didekriminalisasi dengan
segera untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Masalah yang berhubungan dengan
Keluarga Berencana, penjualan alat-alat untuk menegah kehamilan yang dilarang
dalam KUHP perlu ditinjau kembali. Selanjutnya hal-hal seperti kejahatan yang
dilakukan oleh korporasio atau badan hukum, kejahgatan dalam kegiatan bursa
saham perlu mendapat perhatian pula untuk dimasukkan ke dalam ketentuan
undang-undang pidana.
KUHP Nasional yang baru harus mempunyai jangkauan puluhan tahun ke depan
agar tidak berubah-ubah tiap sebentar. Untuk itulah hukum pidana negara lain
yang telah puluhan tahun lebih maju kehidupannya perlu dipelajari.
Selanjutnya,
studi perbandingan hukum pidana adalah untuk memenuhi perintah Pasal 32 UUD
1945 dan penjelasannya yang berbunyi:
Pasal 32 UUD
1945: Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia.
Penjelasan
Pasal 32 UUD 1945:
Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya
rakyat Indonesia. Kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung
sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab,
budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan
asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri,
serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.
Sebagai contoh oleh Prof. Oemar Seno Adji, S.H. dikemukakan bahwa dalam
rancangan KUHP yang baru di buku I dicantumkan adanya suatu sanksi adat pidana
sebagai memenuhi kewajiban adat dan pembayaran ganti kerugian khususnya kepada
korban pelanggaran. Dalam peraturan-peraturan modern mengenai kompensasi
ataupun restitusi kepada “victim” tersebut ketentuan adat dapat berkembang ke
dalamnya.
Dalam hal ganti rugi kepada victim ini dapat mengambil pengalaman dari
penerapan Bab V KUHP Philipina tentang pertanggung jawaban Perdata yang antara
lain menyatakan:
“ menyatakan setiap orang yang dipertanggungjawabkan pidana
karena suatu kejahatan juga dipertanggungjawabkan karena kejahatan
tersebut".
Dengan
demikian dapatlah kita melihat bahwa perbandingan hukum pidana sangat perlu
terutama dalam menyusun KUHP nasional yang baru, bermutu, dan up to date, serta
dapat mengantisipasi permasalahan-permasalahan hukum yang timbul dimasa
sekarang dan yang akan datang.
Perbandingan Kelembagaan dan Fungsional
Ketidaksamaan terhadap sifat dan lingkup dari perbandingan hukum sangatlah
serius sehingga lebih banyak klasifikasi yang dapat ditambahkan dalam studinya.
Mempertimbangkan aktifitas dari perbandingan hukum dan bidang studinya, di
terkait dengan lingkup perbandingan, maka dapat dilakukan melalui dua bentuk.
Pertama, mempelajari dan membandingkan pelembagaan hukum dari dua atau lebih
sistem hukum, yang dikenal dengan isitlah perbandingan kelembagaan; dan kedua
yaitu perbandingan fungsional mengenai perbandingan peraturan hukum secara
lebih terperinci, misalnya fungsi-fungsi dari hukum dan lembaga terkaitnya.
Perbandingan kelembagaan, dikenal juga dengan perbandingan struktur, adalah
perbandingan terhadap lembaga yang mempunyai hubungan dengan hukum. Dalam
metode ini terkait dengan fenomena dari sistem peradilan, konstitusi,
pengangkatan dan pemindahan para hakim, pengacara, struktur dan sumber-seumber
hukum, dan lain sebaginya. Metode perbandingan ini mencoba untuk
mengklarifikasi dan membuktikan baik itu persamaan maupun perbedaan dari
pelembagaan hukum tersebut, di mana hukum yang dibuat telah dijalankan di negara-negara
berdasarkan hasil studi. Setelah mengadopsi perbandingan dari jenis tersebut,
jika salah satunya dikembangkan lebih lanjut dan kemudian mencoba untuk mencari
karakteristik khusus dari lembaga-lembaga itu, maka ia meletakan dirinya dalam
bidang perbandingan fungsional.
Perbandingan fungsional yaitu studi dari proses dan kandungan hukum serta
pelaksanaan riil dari berbagai fungsi yang ditawarkan oleh bermacam sistem
hukum. Di sini, peraturan hukum beserta penyebab dan akibatnya akan dipelajari.
Dengan demikian, jika seseorang memeriksa suatu masalah khusus dari hukum
pidana Indonesia dengan negara lainnya, perbandingan tersebut dinamakan
perbandingan fungsional.
- Nilai, Tujuan dari Perbandingan Hukum
- Nilai, Tujuan dari Perbandingan Hukum
Secara garis besar kegunaan, beberapa nilai dan tujuan dari perbandingan
hukum adalah sebagai berikut:
1. Pemahaman akan hukum yang lebih baik (pengetahuan);
2. Membantu dalam hal pembuatan peraturan perundang-undangan dan badan
reformasi hukum lainnya;
3. Membantu sarana hukum dalam sistem peradilan;
4. Membantu para pengacara untuk berpraktik;
5. Mengisi kekosongan hukum
6. Memahami hukum asing
7. Pembaharuan hokum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar